Optimalisasi Agrobisnis Peternakan Kebumen
Usaha agrobisnis peternakan di Kabupaten Kebumen sebenarnya cukup berpotensi dijadikan sebagai salah satu komoditas unggulan daerah. Kebumen merupakan salah satu sentra peternakan di Jawa Tengah khususnya ditinjau dari populasi sapi potongnya. Namun, subsektor peternakan secara umum masih belum dioptimalkan seperti halnya sektor pertanian, industri, dan sektor lainnya.
Ada delapan jenis komoditas agrobisnis peternakan di Kebumen, meliputi sapi potong, sapi perah, kuda, kerbau, babi, kambing, domba, dan unggas. Mengutip data dari Dinas Peternakan Provinsi Jawa Tengah (2006), produksi daging Kebumen mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Tahun 2006 produksi daging sapi dari total 26 kecamatan yang ada mencapai 1.124.872 kilogram, produksi daging kambing 1.586.413 kg. Kecuali pada jenis ayam ras pedaging dan ayam buras yang mengalami penurunan cukup drastis dari tahun sebelumnya karena memang ikut terkena wabah flu burung ketika itu. Namun, dari total produksi daging secara keseluruhan masih lebih tinggi dari tahun sebelumnya, yakni mencapai 7.090.400 kg.
Dilihat dari potensi ketersediaan hijauan makanan ternak (HMT) dan carrying capacity yang ada sudah cukup mendukung. Carrying capacity merupakan kemampuan ketersediaan hijauan makanan ternak terhadap daya tampung ternak yang dihitung dalam animal unit (AU). HMT di Kebumen mampu menampung ternak sebanyak 135.70 AU yang setara dengan 135.70 ekor sapi dewasa.
Ketersediaan pakan dari rumput lapangan 44,678 AU dan rumput unggul 28,926 AU. Potensi luas panen limbah pertanian untuk jerami padi tahun 2006 sekitar 72.435 hektar dengan produksi 181.088 ton dan carrying capacity 18.718 AU. Di samping itu, ada limbah jerami jagung, kedelai, dan daun ketela pohon dengan daya dukung ternak sekitar 2.796 sampai 8.609 AU yang juga belum dimanfaatkan secara optimal sebagai pakan/cadangan pakan ternak terutama pada musim kemarau. Teknologi reproduksi
Hingga saat ini, peningkatan populasi ternak termasuk sapi potong yang ada belum terlalu menggembirakan. Populasi sapi potong tahun 2006 tercatat 33.468 ekor, hanya terjadi peningkatan 630 ekor. Populasi sapi potong terbesar ada di Kecamatan Ambal, Puring, dan Bulus Pesantren. Adapun populasi kambing tertinggi menonjol di enam kecamatan adalah Karanggayam, Mirit, Ambal, Klirong, Kutowinangun, dan Buayan. Domba ada di Kecamatan Mirit, Ambal, Kuwarasan, dan Bonorowo.
Masih sangat diperlukan upaya optimalisasi jangka panjang untuk memacu peningkatan populasi ternak dari yang sudah ada sekarang ini. Penerapan teknologi reproduksi seperti inseminasi buatan (IB) dan transfer embrio (TE) sejauh ini belum digarap dengan baik.
Padahal, dengan mengintensifkan penerapan teknologi reproduksi seperti program inseminasi buatan (IB) dan transfer embrio (TE) merupakan salah satu kunci sukses untuk meningkatkan populasi sekaligus mutu genetik ternak di peternakan rakyat. Sosialisasi dan peningkatan kuantitas serta kualitas SDM pelaksana aplikasi bioteknologi ini masih minim dan perlu ditingkatkan di lapangan. Tahun 2001 sampai 2003, tenaga inseminator mengalami pasang surut, dari 26 kecamatan yang ada di Kabupaten Kebumen hanya sekitar 20 orang inseminator dari semula 27 orang.
Pekerjaan rumah (PR) pemerintah pusat, provinsi, dan daerah adalah penerapan TE yang belum ada geregetnya hingga sekarang. TE idealnya bisa lebih diintensifkan dan memasyarakat seperti halnya IB. TE merupakan generasi kedua dalam bioteknologi reproduksi sapi setelah IB. TE diperkenalkan Pemerintah Perancis ke Indonesia sejak 1996 melalui BPTP. Namun, ironisnya hingga akhir 2008 program ini baru menghasilkan 15 ekor sapi di seluruh wilayah Indonesia. Optimalkan sapi PO
Populasi sapi-sapi keturunan yang sudah ada seperti peranakan simmental (PS), persilangan simmental dengan PO (simpo), peranakan limousin dengan PO (limpo), dan lain sebagainya tetap dikembangkan. Akan tetapi, di sisi lain upaya meningkatkan populasi sapi lokal seperti peranakan ongole (PO) sendiri yang sudah terbukti mampu beradaptasi dengan baik juga tidak boleh diabaikan. Apalagi dimungkinkan sapi PO di Jateng dan DIY dalam waktu 15-20 tahun yang akan datang akan punah (hilang) akibat persilangan terus-menerus dengan simmental, limousin, dan lain sebagainya tanpa ada tujuan yang jelas. Dilihat dari produksi dagingnya memang lebih positif, tetapi dari aspek adaptasi ternak hasil persilangan baru terhadap daya dukung wilayah dan peningkatan populasi serta pelestarian sapi PO sebagai plasma nutfah nasional sangat merugikan. Sapi PO sudah banyak dilakukan penelitian dan hasilnya menunjukkan, meskipun bobot badan tidak setinggi sapi impor, dari segi feed konversinya lebih baik. Dengan kualitas pakan seadanya, bobot badan relatif masih bagus, berbeda dengan sapi bangsa Eropa seperti simmental, misalnya, yang bobot badannya akan turun drastis ketika diberi pakan yang sama.
Untuk membuka peluang optimalisasi potensi yang ada, kendala dan masalah di lapangan seperti ketersediaan pakan yang tidak merata, pemanfaatan limbah pertanian yang belum optimal terutama di kecamatan-kecamatan basis peternakan harus segera diatasi termasuk pengaktifan kembali kelompok-kelompok tani ternak.
Pemerintah provinsi bersama-sama dengan pemerintah kabupaten harus mampu menyediakan bibit unggul yang terjangkau dan penanganan kesehatan reproduksi agar upaya peningkatan populasi ternak dalam jangka panjang tetap aman. Pangsa pasar Kebumen, Jateng, dan nasional yang masih terbuka lebar menjadikan usaha agrobisnis peternakan masih sangat prospektif.
Ketersediaan hijauan makanan ternak (HMT) termasuk melimpahnya limbah produksi pertanian di Kebumen sebenarnya cukup potensial, tinggal bagaimana pemerintah daerah memandang peluang ini. Dukungan konkret semua pihak baik pemerintah, instansi, lembaga penelitian, perguruan tinggi, swasta maupun masyarakat peternak sendiri sangat diperlukan guna mendukung optimalisasi. Selain mengintensifkan program-program yang sudah ada, di sisi lain terobosan-terobosan baru untuk mengoptimalkan potensi peternakan utamanya peternakan rakyat lebih diprioritaskan lagi karena memang populasi ternak terbesar ada di peternakan rakyat. Dedy Winarto Mahasiswa S-2 Magister Ilmu Ternak Universitas Diponegoro, Asal Kebumen, Jawa Tengah



Comments (0)