Teknologi Nuklir Bagi Formula Pakan Ternak
Kebutuhan komoditas daging sapi belum dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Maka tidaklah heran apabila sejak lama Indonesia menghadapi defisit daging sapi. Impor daging sapi atau sapi bakalan masih menjadi salah satu cara dalam memenuhin target swasembada daging. Jika hingga tahun 2015 penduduk diproyeksikan mencapai angka 253 juta jiwa, maka diperkirakan defisit daging sapi hampir 334.000 ton.
Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) sebagai lembaga penelitian, pengembangan dan penerapan energi nuklir, isotop dan radiasi dalam mendukung program pembangunan nasional telah menemukan Suplemen Pakan Multinutrien (SPM) yang dapat meningkatkan bobot ternak hingga mencapai 0,7-0,8 kg per hari.
Percobaan dilakukan terhadap kerbau di laboratorium ternak Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi (Patir), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Pasar Jumat, Jakarta Selatan.
Peneliti memanfaatkan kerbau itu untuk mengambil sampel bakteri pengurai pakan yang ada di perut kerbau (rumen). Selidik punya selidik, bakteri pengurai itu memiliki peran besar dalam peningkatan produksi ternak. Demikian menurut peneliti utama nutrisi ternak BATAN, Suharyono.
Untuk menghindari kesalahan prosedur maka dibuatkan lubang berukuran tertentu di bagian perut atau di antara pangkal paha belakang dan lambung sebelum pengambilan sampel. Lalu lubang ditutup dengan benda berbahan seperti karet elastis. Apabila sewaktu-waktu ingin megambil sampel, penutup lubang dibuka dan diambil menggunakan sebuah penjapit. Dengan demikian, proses penelitian bakteri pengurai tidak perlu menyembelih kerbau terlebih dulu untuk mendapatkan cairan rumen yang ada di dalam lambung. Lubang itu tidak berdampak pada kualitas hidup kerbau percobaan.
Bakteri pengurai dalam rumen kerbau merupakan protein mikroba yang dapat diketahui percepatan pertumbuhan dengan alat liquid scintillation counting (LSC). Caranya, pertama, sampel rumen diambil dari perut kerbau. Lalu rumen berupa padatan dan cairan diperas menggunakan kasa. Hasil perasan dimasukan dalam termos (tempat kedap udara) agar tidak terkontaminasi udara bebas.
Selanjutnya, sampel dilabeli di laboratorium dengan menggunakan isotop (phosphor32). Isotop ini berperan menelusuri unsur yang sama dalam sampel. Dari penelitian terdahulu, diketahui inti sel bakteri pengurai dalam rumen itu mengandung unsur fosfor.
Setelah itu, sampel yang telah bercampur dengan fosfor diproses melalui proses sentrifugasi (diputar dengan gaya sentrifugal). Kemudian didestruksi di dalam ruang asam menggunakan larutan kimia tertentu hingga cairan bening. Cairan ini kemudian dimasukan dalam vial (botol) untuk mengetahui kandungan fosfor dengan LSC. Semakin tinggi sel yang terserap isotop, berarti laju pertumbuhan bakteri pengurai semakin banyak. Setelah diketahui laju pertumbuhan bakteri, maka bisa dicari formula pakan yang bisa memicu pertumbuhan bakteri.
Formula Pakan
Sejauh ini, penelitian dan pengembangan pakan ternak ini telah menghasilkan formula formula urea molasses multinutrient block (UMMB) dan suplemen pakan multinutrien (SPM). Formula pakan itu diperoleh dari bahan limbah industri pertanian sebab pakan ternak tidak boleh berkompetisi dengan bahan pangan manusia.
Bahan baku formula UMMB, antara lain molase, dedak/bekatul, onggok, bungkil kedelai, tepung tulang, biji kapuk, daun singkong, urea, lakta mineral, garam dapur, dan kapur. Bahan-bahan tersebut dicampur dengan komposisi tertentu dan diolah sedemikian rupa hingga berbentuk padat.
Hasilnya mirip stoples bundar yang biasa digunakan untuk menyimpan kue kering. Bentuk praktis ini akan mempermudah penyimpanan dan pengiriman. Formula UMMB dibanderol 3.000 - 4.000 rupiah. Adapun takaran formula UMMB untuk hewan ternak adalah 0,1 persen dari berat badan.
Dari hasil penelitian, pemberian pakan UMMB dapat meningkatkan produksi ternak, efisiensi pencernaan ternak, meningkatkan kinerja reproduksi, dan memperbaiki kandungan gizi, mineral, serta vitamin pada pakan.
Bobot ternak yang mengonsumsi UMMB bisa naik empat kali lipat dibandingkan pakan biasa. Formula UMMB ini telah dideseminasikan ke 23 provinsi agar masyarakat peternak bisa mengaplikasikannya sendiri.
Tambahan Roti
Pada sisi lain, sebagian dari mereka yang mengaplikasikan formula pakan ternak UMMB mengeluhkan adanya kesulitan untuk mendapatkan molase atau tetes tebu. Oleh karena itu, Suharyono menyoba menyiasatinya dengan membuat formula baru dengan menggunakan tambahan roti kedaluwarsa yang dipasok dari industri pangan. Roti ini masih memiliki kandungan gizi tinggi karena seperti diketahui bahan bakunya ada susu, telur, dan gandum.
Tambahan ini cukup aman dimakan hewan ternak karena memiliki kemampuan mendetoksi mikroba berbahaya. Penggunaan roti ini juga dapat mengurangi penggunaan molase, dari yang sebelumnya memakai komposisi 30 persen menjadi 10 persen. Formula baru ini dikenal sebagai SPM.
Penggunaan SPM sebagai tambahan pakan ternak ternyata juga dapat mereduksi 60 persen gas metan (CH4) yang dihasilkan sapi maupun kerbau. Artinya, penggunaan SPM juga dapat menghemat energi sistem pencernaan ternak hingga meningkatkan produktivitas ternak. Tak berlebihan jika pakan ini diklaim lebih ramah lingkungan.
Tidak hanya itu, SPM yang digunakan sebagai pakan sapi perah dapat memproduksi susu saat puncak laktaksinya lebih lama setelah melahirkan. Hal itu dibuktikan dengan uji coba tiga jenis pakan, yaitu pakan biasa (kontrol), UMMB, dan SPM.
Produksi susu sapi perah yang diberi pakan kontrol menurun dalam tempo empat pekan. Adapun produksi susu sapi perah yang diberi pakan UMMB menurun dalam jangka enam pekan, sedangkan produksi susu sapi perah yang diberi pakan SPM menurun dalam waktu delapan pekan.
Uji Pakan dalam "Perut Buatan"
Formula pakan diberikan sesuai keperluan untuk tujuan penggemukan atau menambah produksi susu. Untuk mengetahui formula pakan yang tepat bagi hewan ternak, seperti sapi dan kerbau, tim peneliti nutrisi ternak BATAN mengembangkan perut buatan (rumen stimulation technique/Rusitek) hewan memamah biak. Alat ini didesain sedemikian rupa menyerupai perut hewan yang diharapkan dapat digunakan untuk mengetahui formula pakan lewat fermentasi di dalamnya.
Sekilas alat tersebut mirip sebuah kotak akuarium yang terdapat cairan dan padatan di dalamnya. Kotak tersebut memiliki kapasitas 1 liter cairan untuk menaruh formula pakan yang hendak diteliti kandungannya. Sebelum proses penelitian, dalam wadah tersebut diberikan cairan yang berasal dari rumen dan salivah (air ludah buatan). Cairan tersebut berfungsi untuk menyuplai mikroba agar terjadi proses fermentasi pada tahap selanjutnya.
Pada sisi lain, di dalam kotak itu terdapat beberapa tabung yang mirip sebuah ruang bakar kendaraan bermotor. Masing-masing tabung itu terhubung dengan sebuah stang yang bekerja naik-turun. Tabung yang terhubung dengan stang ini bekerja seolah-olah dalam sistem pencernaan.
Di bagian atas tabung terdapat selang yang terhubung ke botol (plastik) penampung cairan dan gas. Menurut peneliti utama nutrisi ternak BATAN, Suharyono, dari botol penampung tersebut dapat diketahui hasil fermentasi berupa amoniak, pH, asam lemak mudah terbang, biomasa mikroba.
Sedangkan, dalam wadah penampung gas dapat dihimpun karbondioksida (CO2) dan metan (CH4). Khusus untuk mengetahui seberapa banyak hasil gas metan, maka dihitung dengan menggunakan alat methane analyzer.
Setelah diketahui komposisi formula pakan yang tepat, maka dilakukan penelitian berupa uji invivo dengan memberikan pakan pada hewan percobaan. Formula pakan diberikan sesuai keperluan untuk tujuan penggemukan atau menambah produksi susu.
Sejauh ini, pakan komplet yang menggunakan bahan baku utama tanaman sorgum masih dalam tahap penelitian. Apabila hasilnya memuaskan, maka peternak dapat segera mencobanya.
Sumber : Koran Jakarta



Comments (0)