|

BANDUNG, (PR).- Gangguan penyakit fatal pada sapi, displasia abomasum (pergeseran tempat lambung) di Indonesia kini sudah dapat disembuhkan melalui metode pembedahan. Penyembuhan penyakit itu dipraktikkan dokter hewan asal Jepang, dr. Shigeru Minami, di sentra peternakan sapi perah di Kec. Pangalengan, Kab. Bandung selama tiga bulan terakhir. Dr. Shigeru Minami yang bertugas melalui JICA (Japan International Cooperation Agency), di Bandung, Rabu (14/1) mengatakan, teknik pembedahan penyembuhan penyakit displasia abomasum akan disosialisasikan kepada berbagai dokter hewan di Indonesia, terutama di Jabar, sehingga dokter hewan lokal mampu mempercepat penanganan dan penyelamatan populasi hewan dari kematian yang disebabkan penyakit itu.
"Semula, banyak peternak lokal ragu-ragu mengobati peliharaannya itu dengan cara dibedah. Setelah diyakinkan dan berhasil, banyak peternak yang kemudian mempercayai metode penyembuhan ini," kata Minami, saat Workshop Program Pengendalian dan Penanganan Penyakit Metabolik pada Usaha Sapi Perah Rakyat, di Dinas Peternakan Jabar, yang dibuka Kepala Dinas Peternakan Jabar yang baru, H. Koesmayadie. Ternak sapi yang terkena penyakit displasia abomasum memiliki ciri-ciri tak ada nafsu makan, perut kembung, dan diare. Kematian ternak sapi akibat penyakit ini akan sangat cepat jika terjadi pergeseran lambung ke bagian kanan karena paling lama hidupnya hanya sampai tiga bulan. Lain halnya jika terjadi pada bagian kiri, sapi itu masih dapat bertahan hidup sampai sembilan bulan. Sebelumnya, banyak peternak sapi yang peliharaannya terkena penyakit ini tidak berani menyembuhkannya, lebih memilih menjual ternaknya untuk dipotong walau hanya dihargai Rp 3 juta/ekor dari harga normal Rp 14 juta/ekor. Dokter dari Koperasi Peternak Bandung Selatan, drh. Asep, mengatakan, setelah disembuhkan dengan pembedahan, produktivitas susu ternak sapi perah meningkat lagi. Misalnya yang sempat menurun ke 1 liter/hari naik lagi ke 8 liter/hari, atau yang 2 liter/hari ke 10 liter/hari. Koordinator JICA Bidang Peternakan, drh. Pammusureng dan Kasi Kesmavet Bidang Kesehatan dan Kesmavet Dinas Peternakan Jabar, Indriantari mengatakan, risiko tertinggi serangan penyakit ini biasa terjadi pada musim kemarau. Penyebabnya, terlalu banyak konsentrat yang diberikan akibat kekurangan pakan hijauan sehingga persentase perbandingan mencapai 50:50 dari perbandingan aman 75:25. Selain itu, tim menemukan penyakit yang ditimbulkan oleh parasit darah pada sapi perah di Kec. Pangalengan, yang sebelumnya hanya menyerang sapi potong. Untuk penyakit yang satu ini, sejauh ini obat penyembuhan masih minim tersedia di Indonesia. Sementara untuk penyakit yang mengganggu alat reproduksi, seperti sulit birahi, ari-ari sulit keluar, dan tak nafsu makan, tengah disosialisasikan pengobatan alami yang disebut moksa. Pengobatan berbiaya murah ini, tekniknya mirip akupunktur, dengan bahan obat dari daun rumput beunghar kucicing, yang cukup banyak terdapat di perkampungan. (A-81)*** Penulis: Back sumber : http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=53586 |
Comments (2)