SILAKAN BETERNAK, TAPI...
Sumber : http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=55464
MUNCULNYA kasus flu burung, diharapkan, tak membuat masyarakat khawatir tak lagi bisa memelihara unggas. Ada banyak cara yang bisa dilakukan masyarakat agar tetap bisa beternak unggas tanpa mengkhawatirkan serangan virus:
1. Kandangkan unggas.
Pengandangan unggas ini bermaksud untuk memisahkan unggas dengan rumah tinggal. Jika unggas dibiarkan tinggal di dalam rumah, potensi menjangkitnya virus dari ayam ke manusia akan semakin besar. Selain itu, langkah ini bertujuan memudahkan pengawasan terhadap unggas peliharaan. Kandang yang diperlukan tidak perlu terlalu besar. Hanya, perlu diberi pembatas yang cukup sehingga unggas tak bisa terbang melompatinya. "Jika membuat kandang terlalu mahal, bisa memagari daerah pengembaraannya. Unggas yang di dapur, coba dikeluarkan. Yang tadinya liar, coba dikandangkan," tutur drh. Wiwin Aprianti, Kepala Seksi Kesehatan Hewan pada Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan, dan Perikanan Kab. Bandung Barat, Selasa (20/1).
2. Kotoran ayam harus rajin dibersihkan.
Agar bermanfaat, kotoran unggas bisa diubah menjadi kompos. Proses pengomposan ampuh membunuh virus flu burung. Panas serta zat kimia yang digunakan dalam proses tersebut dengan sendirinya akan menghilangkan potensi terkena virus flu burung lagi.
3. Tempat makanan dan minuman harus dibersihkan setiap hari.
Virus dapat menempel di tempat makan dan minum sehingga bisa menularkan kepada unggas lain yang masih sehat.
4. Cuci tangan setelah memegang unggas atau membersihkan kandangnya. Hal ini sangat penting dilakukan untuk mencegah masuknya virus ke dalam tubuh manusia.
Jika terjadi kematian unggas mendadak:
1. Jangan membuang bangkai ke kebun atau sungai. Jika dibuang sembarangan dikhawatirkan virus akan menyebar, misalnya melalui anjing yang memakan bangkai tersebut. Sungai juga berpotensi menyebarkan virus melalui alirannya.
2. Cara paling baik, bangkai dibakar kemudian dikuburkan di dalam lubang yang dalamnya sekitar 50 cm (yang tidak mudah tercabik). Bangkai sebaiknya dibakar di dalam lubang sehingga setelah dibakar bisa dengan mudah diuruk kembali. "Tempat membakar dan mengubur itu harus jauh dari sumber air," kata Wiwin.
3. Jangan bersentuhan langsung dengan bangkai. Gunakan plastik atau sarung tangan.
4. Sesudah dikubur, jangan langsung disemprot disinfektan. Sebab, disinfektan mengandung formalin yang menghambat penguraian.
5. Lapor cepat! Laporkan setiap kejadian ke aparat terdekat, RT, RW, desa, kecamatan, atau ke Dinas Peternakan.
6. Setelah ditemukan virus, segera lakukan depopulasi selektif. Yaitu pemusnahan terbatas pada kandang atau pekarangan yang terinfeksi. Caranya dengan dipotong lalu dikuburkan.
7. Unggas yang tidak terinfeksi harus dikarantina selama 14 hari di kandangnya. Oleh karena itu, jika kemudian ada yang mati, akan mudah diatasi karena terjadi di dalam kandangnya dan tidak menyebar ke tempat lain.
8. Waspadai cuaca buruk di musim hujan. "Seperti halnya manusia yang mudah sakit pada saat cuaca buruk, unggas juga demikian," ujar Wiwin. (Hazmirullah-Catur Ratna Wulandari/"PR")***
Last Updated ( Sunday, 03 May 2009 00:06 )



Comments (0)