PDF Print E-mail
Written by Jamalzen   
Wednesday, 25 March 2009 15:27

Peternakan Terpadu Atasi Pemanasan Global 

Kekhawatiran bahwa peternakan sapi, kambing dan domba menjadi salah satu penyumbang pemanasan global seharusnya tidak perlu terjadi. Sebab, hal itu bisa diatasi dengan cara membangun sistem peternakan terpadu.

Demikian ditegaskan Ketua LPM (Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat) Universitas Brawi-jaya, Malang, Chuzaemi menanggapi usulan kontroversial menggantikan daging sapi atau domba dengan daging kanguru yang dilontarkan ilmuan asal Australia, Ross Garnaut.

Chuzaemi menyatakan, masyarakat Indonesia tidak perlu khawatir dengan pernyataan yang mengatakan bahwa ternak ruminansia sebagai penyumbang terjadinya pemanasan global. Sebab, jika ada mikroba metanogenik, maka kotoran dari ternak ruminansia dapat terurai menjadi gas methana. Selain itu, kandungan gas methana dari ternak hanya kurang dari 10%, sehingga tidak terlalu berbahaya.

Jika gas methana yang berasal dari jutaan perut sapi merupakan penyumbang terbentuknya gas rumah kaca, Chuzaemi mempertanyakan, apakah petani harus membayar mahal terhadap gas methana yang dihasilkan ternak dengan cara mengurangi jumlah ternak ruminansia. “Ini tidak mungkin dilakukan karena ternak-ternak ini merupakan tabungan bagi petani pedesaan,” tegasnya.

Apalagi di sisi lain, gizi masyarakat Indonesia masih rendah sehingga konsumsi daging harus ditingkatkan. Untuk itu harus dibarengi dengan produksi ternak guna mencukupi kebutuhan daging dari tahun ke tahun.

Karena itu dia berpendapat, untuk mengatasi pemanasan global, pemerintah harus mempunyai konsep membangun sistem peternakan terpadu. Cara ini guna mengurangi efek gas rumah kaca yang ditimbulkan ternak ruminansia.

Sebelumnya Profesor Ross Garnaut dari Australia mengusulkan agar peternakan sapi, kambing dan domba diganti dengan peternakan kanguru. Alasanya, hewan asli Benua Australia itu mengeluarkan sedikit gas methana dibandingkan sapi dan domba.

Menurut Garnaut, gas buangan dari jutaan perut ternak, baik saat bersendawa maupun buang gas, merupakan penyumbang utama terbentuknya efek rumah kaca yang memunculkan pemanasan global. Alasannya perut ternak yang berasal dari ruminansi tersebut CH4 atau gas methana yang merupakan salah satu gas yang cukup berbahaya karena bertahan lebih lama di atmosfer.

Dalam mencerna makanan, ternak-ternak ini mengeluarkan kotoran baik berupa feses ataupun sendawa yang berupa gas methana yang berjumlah tinggi di udara yang bisa menyebabkan panas dari matahari tidak keluar dari atmosfer tetapi terpantul kembali ke bumi sehingga membuat bumi makin panas.

Garnaut juga menyatakan, makanan sapi perah yang berupa rumput gajah juga merupakan penyumbang pemanasan global. Alasannya, ketika rumput gajah yang dipanen, karbon yang terkandung di dalamnya ikut terangkut. Akibatnya cadangan karbon di dalam tanah menipis dan menyebabkan pemanasan global.

Dia mengungkapkan, dalam sejarah kehidupan manusia di Australia, sekitar 60.000 tahun, kanguru menjadi sumber daging utama.  Dalam sebuah penelitian mengenai potensi mengganti domba dan sapi dengan kanguru, disebutkan  bahwa pada tahun 2020, jumlah ternak bisa dikurangi antara 7-36 juta. Ini akan memberi tempat bagi kanguru untuk meningkatkan populasi dari 34 juta saat ini menjadi 240 juta tahun 2020.

“Jumlah tersebut lebih dari cukup untuk menggantikan produksi daging sapi dan domba. Harganya pun lebih menguntungkan bagi peternak bila denda gas buangan diterapkan,” ujar Garnaut.

Menurut laporan Garnaut, hewan ternak, terutama sapi dan domba bertanggungjawab terhadap sekitar 67% gas rumah kaca yang dihasilkan sektor pertanian. Di lain pihak, walau menjadi lambang negara, selama ini jutaan kanguru terpkasa dibunuh setiap tahun untuk mengendalikan populasi mereka.

“Kebanyakan dagingnya digunakan sebagai makanan hewan. Padahal daging kanguru disebut lebih sehat karena mengandung lebih sedikit lemak, memiliki kandungan protein tinggi, dan lebih bersih,” tuturnya.

Namun demikian Chuzaemi menegaskan, kekhawatiran tersebut dapat diminimalkan dengan membangun peternakan modern. “Dengan sistem terpadu, jika kekhwatiran ini secara ilmiah terbukti, maka paling tidak dampaknya dapat dikurangi,” katanya.  Shanty

Kesehatan Hewan Pengaruhi Kesehatan Manusia

Selama ini banyak orang yang mengabaikan kesehatan hewan. Padahal kesehatan hewan sangat mempengaruhi kesehatan manusia.  Disamping juga pengaruh lingkungan dan keamanan pangan. Untuk itu satu sama lain harus diatur seimbang dan saling keterkaitan.

Demikian dikatakan Ketua Kompartemen Bidang Peternakan Kamar Dagang Industri Indonesia (Kadin), Don P. Utoyo, kepada Agro Indonesia usai menghadiri Expert-Consultation “One World-OneHealth” (OWOH), di Winnipeg Canada.

Acara yang berlangsung 16-19 Maret 2009 merupakan kegiatan Badan Pangan Dunia (FAO). Kegiatan ini dilaksanakan Dirjen Kesehatan Canada bekerjasama dengan organisasi dunia seperti  FAO, WHO, OIE, UNSIC dan UNICEF. Peserta yang hadir merupakan wakil dari negara-negara donor, industri, universitas, badan penelitian dunia dan Lembaga Swadaya Masyarakat.  Hadir juga wakil dari  World Bank, USAID, Red Cross, Uni Eropa, BBC-UK dan sebagainya.

Tujuan dari kegiatan ini, kata Don, untuk merusmuskan ide-ide yang bisa jadikan aksi dunia OWOH dalam meng-identifikasi prioritas dan hambatan dalam merealisasikan Strategic Framework for Reducing Risk of Infectious Diseases of Animal Human Ecosystem Interface.

Dari pertemuan ini dikeluarkan deklarasi/Rekomendasi Prioritas Aksi Global, Regional dan Nasional dalam mengatasi kesehatan manuasia, hewan, kemanan pangan dan lingkungan.

Don, mengatakan dari pertemuan ini disimpulkan antara lain bahwa dunia internasional semakin pahami kesehatan manusia sangat dipengahui kesehatan hewan, lingkungan dan keamanan pangan. “Untuk itu harus diatur keseimbangan satu sama lainnya. Komponen ini saling ketergantungan,” katanya.

Menurut dia, agar orang sehat maka perlu lingkungan, makanan yang sehat dan aman. Dengan demikian sumber protein dari hewan harus sehat. Jika orang kurang protein dan makan makanan yang tidak aman/sehat bisa sakit. Bila orang sakit, maka tidak ada yang akan membeli makanan.

Akibatnya, industri terancam.  Jadi industri juga harus memproduksi makanan yang aman dan sehat. “Semua harus saling menjaga secara seimbang. Stakeholders dan lembaga dunia juga harus cepat mengatasi masalah jika terjadi ancaman terhadap kesehatan di dunia,” tegasnya.

Dia menyebutkan langkah yang perlu dilakukan terutama Pemerintah Indonesia mulai dari pusat sampai ke daerah adalah melakukan kegiatan terbaik untuk mencegah pandemi yang mengancam kesehatan dunia. “Tidak hanya pemerintah saja yang melakukan langkah-langkah pencegahan, tetapi semua  lapisan masyarakat, pelaku usaha, peneliti, media masa harus berperan aktif untuk menangkal  ancaman kesehatan dunia,” katanya.

Don yang juga ketua Forum Masyarakat Perunggasan Indonesia mengatakan pemerintah perlu lakukan langkah-langkah yang jitu dan briliant signs, yaitu surveilans, biosecuritydan vaksinasi yang sangat selektif. “Masyarakat dan pers agar dibiasakan melaporkan kepada intansi yang berwewenang jika keadaan ancaman,” katanya.

Menurut dia, langkah atau program yang perlu dilaksanakan bukan hanya menyangkut masalah penyakit unggas atau ternak ruminansia. “Kebetulan saja sekarang penyakit avian influenza sedang muncul, maka yang perlu dikendalikan adalah penyakit flu burung. Tapi intinya  semua jenis hewan dan manusia harus dilakukan surveilans, biosecurity dan vaksin. Langkah ini harus dilakukan secara selektif, konsisten dan terprogram,” katanya.

Menyinggung mengenai langkah pemerintah dalam mengendalikan berbagai penyakit hewan di tanah air, Mantan Sekretaris Ditjen Peternakan ini mengatakan upaya yang dilakukan pemerintah sudah cukup baik, namun persoalan yang sering muncul adalah keterbatasan dalam dalam menjalankan program.

Di samping itu, penyelesaian masalah penyakit hewan atau unggas tidak bisa diatasi dari meja seminar atau diskusi. “Kita terlalu banyak seminar dalam upaya mengendalikan penyakit hewan. Kegiatan nyata di lapangan terkadang kalah dengan kegiatan seminar. Akibatnya pengendalian penyakit hewan  sering terlambat,” ungkapnya. 

 

Comments (0)

Last Updated on Sunday, 03 May 2009 00:00