|
Diantara tujuan dari aktivitas Corporate Social Responsibility (CSR) yang dilakukan perusahaan-perusahaan adalah untuk menumbuhkan dan membangkitkan kemandirian warga desa melalui berbagai usaha yang produktif. Kesan publik dan warga desa sendiri adalah, program CSR untuk membantu mereka. Itu benar. Tetapi dalam arti yang lebih luas, bantuan tersebut justru untuk sebuah sasaran yang lebih bermakna. Mereka bukan sekadar diberi sesuatu, lalu selesai. Tetapi melalui CSR, mereka dibekali dan memotivasi mereka untuk lebih mandiri dalam kehidupan sehari-hari.
Secara umum, program CSR diterapkan di kawasan sekitar lokasi operasional perusahaan. Misalnya di sekitar pabrik kelapa sawit. Atau, di sekitar perkebunan karet. Mungkin pula di desa-desa yang berdekatan dengan pabrik gula, pabrik teh serta industri-industri lainnya. Dari sejumlah bentuk program yang dipilih dalam CSR tersebut, ternyata yang terkait dengan ternak sapi, menjadi pilihan beberapa perusahaan. Program ternak sapi ini tergolong unik dan memberi beberapa manfaat bagi warga desa setempat. Misalnya, CSR Asian Agri juga memberi perhatian pada ternak sapi. Ada beberapa kelebihan lain yang dilakukan CSR-AA dalam hal ini. Ketrampilan dan Pakan CSR-AA bukan sekadar memberikan sejumlah sapi pilihan pada warga desa yang merupakan para petani plasma di Desa Kuranji, Desa Budi Sari dan Desa Bulian Jaya di Kabupaten Batanghari, Jambi. Begitu pula untuk warga desa di Kabupaten Labuhan Batu (Sumut). Kepada mereka juga diberikan pelatihan tentang hal-hal yang terkait dengan peternakan sapi. Instruktur menjelaskan kepada mereka antara lain mengenai pemeliharaan dan perawatan sapi, tentang makanan dan kebersihan kandang. Termasuk mengenai inseminasi buatan (IB) dan cara memerah susu. Pengetahuan dan ketrampilan tersebut sangat penting, agar sapi-sapi itu dapat berkembang biak dengan maksimal. Melalui pelatihan itu, petani plasma yang menerima sapi program CSR, diharapkan menjadi peternak yang baik. Kehidupan sapi itu tak terlepas dari kualitas makanan yang diberikan. Untuk sehari-hari, mungkin tidak ada masalah. Namun tatkala musim kemarau, tentu dirasakan kesulitan untuk pengadaan pakan ternak sapi. Dalam hal ini, CSR-AA bekerjasama dengan tenaga ahli dari Bandung menyelenggarakan pelatihan silase yakni memperkenalkan kepada mereka teknologi untuk pengawetan pakan ternak, seperti rumput. Adanya pakan ternak ini, nantinya sapi-sapi itu akan cukup mendapatkan makanan yang cukup ketika tiba musim kemarau. Biogas dan Bergulir Berikutnya, memanfaatkan kotoran sapi, yang diolah untukmenjadi biogas. Proses kotoran sapi hingga menjadi biogas tentu membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan tersendiri. Untuk itu, pihak CSR-AA bekerjsama dengan tenaga ahli dari Bandung, sehingga petani plasma itu mengetahui proses dimaksud. Menurut Humas AA, uji coba penggunaan biogas itu telah dilakukan dan hasilnya cukup menggembirakan. Bahkan petani tersebut dapat menghemat biaya sebagai pengganti bahan bakar dan untuk lampu genset. Dari sisi lain, kompos biogas, yang berasal dari limbah biogas itu telah menghasilkan pupuk dan langsung dapat diaplikasikan untuk lahan pekarangan. Hal lain yang menarik dari CSR-AA ini adalah, diterapkan program “sapi bergulir”. Para petani plasma dapat memahami dan mereka setuju dengan program ini, sehingga terwujud pemerataan dalam peternakan sapi tersebut. Melalui sistem ini, lahir rasa tanggungjawab dari mereka yang termasuk tahap I, untuk dapat digulirkan untukkelompok tahap II dan seterusnya. Program sapi bergulir mengandung dua manfaat. Pertama, pembiakan sapi yang makin berkembang, karena terprogram/terjadwal dengan baik. Kedua, pengguliran sapi yang berintegrasi dengan perkebunan kelapa sawit yang dilakukan Grup AA dapat membantu pendapatan petani, selain penghasilan tandan buah segar. Ekonomi Dari sudut ekonomi, program sapi bergulir tersebut memang memberi sejumlah manfaat nyata bagi warga desa, khususnya petani plasma yakni: 1. Sapi yang berkembangbiak itu, dalam jumlah tertentu jika telah memungkinkan, dapat dijual. 2. Dari kotoran sapi, dapat dihasilkan biogas. Selain untuk kebutuhan sendiri, tentu dapat dijual kepada pihak lain. 3. Kompos dari limbah biogas akan bermanfaat untuk petani sendiri atau dijual kepada orang lain yang membutuhkannya. 4. Pakan ternak yang diawetkan, dapat dipakai sendiri tatkala musim kemarau dan jika berlebih dapat dijual kepada peternak sapi lain yang memerlukan. Dari uraian itu, dipetik beberapa manfaat dari pelaksanaan program sapi bergulir yang dilakukan CSR-AA. Keberhasilan program sapi bergulir ini, antara lain seperti diungkap Humas AA yakni di Kabupaten Batanghari pada Juli 2008 diberikan 48 ekor sapi, ternyata pada Maret 2009 telah digulirkan 12 ekor yang berasal dari pembiakan sapi tersebut. Program semacam ini, sangat dirasakan faedahnya oleh petani plasma. Ini merupakan bentuk kepedulian perusahan untuk ikut membantu mereka yang berpenghasilan rendah. sumbangsih ini, sifatnya sangat produktif dan melahirkan sikap kemandirian yang tinggi di kalangan warga desa. Kemandirian seperti ini memang patut ditumbuhkembangkan, agar warga desa tak tergantung pendapatannya pada pihak tertentu, tetapi dapat berusaha dan berbuat sesuatu. Kemandirian dari program CSR, termasuk sistem sapi bergulir perlu terus dilaksanakan agar makin banyak warga desa yang memetik manfaat dan makin mandiri. |
Comments (0)