LEBAH MADU HASIL HUTAN IKUTAN DAN TERNAK HARAPAN
PENDAHULUAN
Hasil penelitian para ahli arkeologi menunjukan bahwa lebah madu terdapat di dunia sudah dimulai pada zaman tertier atau kira-kira 56 juta tahun yang lalu. Dalam Mitologi Hindu misalnya, digambarkan lebah madu jantan yang sedang istirahat diatas bunga teratai, adalah simbol Dewa Wisnu yang merupakan lambang kehidupan dan perdamaian. Pemeliharaan lebah madu telah dikenal 3000 tahun Sebelum Masehi, terutama dilakukan oleh bangsa Mesir kuno. Hal ini menunjukan bahwa lebah madu sudah lama dibudidayakan walaupun hanya disekitar Sungai Nil. Perkembangan budidaya lebah madu di Indonesia mulai dirintis dan dipelopori oleh RIJKEUNS, seorang bangsa Belanda pada tahun 1841. Namun, perkembangannya sangat jauh tertinggal bila dibandingkan dengan negara-negara lain, seperti; Australia, Jerman, Rumania, Mexico, India, Jepang dan China. Hal ini disebabkan bidang perlebahan kurang mendapat perhatian, budidayanya masih sangat tradisional dan sebagian besar produksinya diperoleh dengan cara merusak atau membakar sarangnya.
Peluang untuk usaha budidaya lebah madu di Indonesia masih sangat besar. Alasannya, karena Indonesia mempunyai hutan alam yang sangat luas, sekitar 200 Juta hektar dengan beraneka jenis tanaman yang berbunga secara bergantian sepanjang tahun. Tanaman tersebut merupakan habitat ideal untuk usaha budidaya lebah madu. Bila usaha budidaya lebah madu. Bila budidaya lebah madu dikelola secara intensif dan modern, maka akan memberikan manfaat langsung maupun manfaat tidak langsung. Manfaat langsungnya adalah memperoleh berbagai produk lebah madu, seperti; madu, royal jelly, tepung sari (bee pollen), lilin, perekat (propolis), dan racun lebah.
Semua produk ini mempunyai nilai ekonomi yang dapat membantu upaya perbaikan gizi masyarakat dan untuk meningkatkan pendapatan peternak lebah. Sedangkan manfaat tidak langsung yaitu berkaitan dengan proses pelestarian sumber daya hutan, peningkatan produktivitas tanaman, dan adanya hubungan simbiosis yang saling menguntungkan. Tanaman akan mengeluarkan bunga yang banyak mengandung nektar dan tepung sari sebagai makanan lebah, sementara lebah madu akan membantu proses penyerbukan bungan tanaman.
II. ATANOMI DAN JENIS LEBAH MADU
A. Sistimatika
Sistematika lebah madu sebagai berikut;
Kerajaan : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Hymenoptera
Famili : Apidae
Genus : Apis
Spesies : Apis cerana, Apis mellifera, Apis dorsata dan Apis florea
B. Anatomi
Secara umum tubuh lebah madu terbagi menjadi 3 bagian (gambar 1 dan 2) yang terdiri dari :
Kepala (caput) dan peralatannya
Antena berfungsi sebagai radar
Mata
Mulut
2. Dada (thorax) dan peralatannya
a. Sayap terdiri dari 2 pasang
b. Kaki terdiri dari 3 pasang
3. Perut (abdomen)
a. Kantong madu atau nektar
b. Kantong racun atau bisa
C. Jenis-jenis Lebah Madu
1. Spesies-spesies yang telah dibudidayakan
a. Apis cerana
Apis cerana merupakan lebah madu asli Asia yang menyebar mulai dari Afganistan, China, Jepang sampai Indonesia. Cara budidayanya sebagian besar masih tradisional, yaitu di dalam gelodok. Budidaya secara modern yaitu didalam kotak (steuep) yang dapat dipindah-pindahkan. Produksi madu Apis cerana dalam setahun dapat menghasilkan 2 – 5 kg madu per koloni.
b. Apis mellifera
Apis mellifera merupakan lebah madu import dari Italia yang memiliki temperamen tidak ganas, mudah dibudidayakan dan ukuran tubuhnya lebih besar dari Apis cerana. Produksi madunya sangat banyak yaitu dalam setahun dapat mencapai 20 – 60 kg madu per koloni. Spesies lebah madu ini sangat cocok untuk usaha budidaya lebah madu untuk skala komersial.
2. Spesies-spesies lebah madu yang belum dapat dibudidayakan
a. Apis dorsata
Apis dorsata hanya berkembang di Asia seperti; India, Philipina, China dan Indonesia. Madu dari spesies ini dikenal sebagai madu alam atau madu hutan. Di Indonesia spesies lebah madu tersebut hanya terdapat di pulau Sumatera, Maluku, Irian Jaya, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Sarang Apis dorsata dibangun secara tunggal dengan sisiran sarang hanya selembar. Sarang tersebut digantung dicabang pohon dan tebing batuan. Produksi madunya dalam setahun dapat menghasilkan 15 - 25 kg madu per koloni.
b. Apis florea
Apis florea terdapat di Oman, Iran, India dan Indonesia. di beberapa tempat lebah madu Apis florea dapat hidup bersama-sama dengan Apis mellifera, Apis cerana dan Apis dorsata. Produksi madunya dalam setahun hanya sekitar 1 – 3 kg madu per koloni.
III. KOLONI, PAKAN, DAN PRODUK LEBAH MADU
A. Koloni dan Pembagian Tugas
Dalam satu koloni lebah madu terdapat tatanan kehidupan yang penuh dengan gotong royong dan saling ketergantungan. Setiap strata dalam koloni berusaha menjunjung tinggi strata-strata yang lain dan berusaha memikul kewajibannya masing-masing untuk mencapai prestasi seoptimal mungkin, sehingga kelangsungan dan kesanggupan membentuk koloni sangat kuat dan sangat menakjubkan. Ada 3 strata dalam satu koloni lebah madu yaitu:
1. Strata ratu lebah
Ukuran tubuh ratu lebah yaitu dua kali panjang lebah pekerja dan lebah jantan. Tugas wajibnya adalah bertelur terus-menerus sampai kemampuan bertelur berakir. Ratu lebah mampu bertelur sebanyak 1000 – 2000 butir telur per hari. Umurnya dapat mencapai 3 – 5 tahun. Dalam satu koloni lebah madu hanya ada seekor ratu lebah .
2. Strata lebah pekerja
Strata lebah pekerja merupakan strata yang jumlahnya paling banyak yaitu sekitar 20.000 – 90.000 ekor dalam satu koloni. Tugas utama lebah pekerja yaitu; mengumpulkan nektar, tepungsari dan air dari berbagai bunga-bunga tanaman yang kaya akan protein, vitamin dan karbohidrat;
- merawat ratu, lebah jantan dan larva;
- membangun sel sarang;
- menjaga sarang dari musuh-musuhnya;
- membersihkan sarang, menyimpan madu dalam sel dan memperbaiki sel sarang yang rusak.
Lebah pekerja mempunyai senjata andalan berupa sengat berduri. Sengat itu menyerupai bentuk kait yang dilengkapi dengan kantong racun. Sekali alat penyengat itu digunakan untuk menyerang lawan, maka lebah pekerja akan mati. Umur lebah pekerja sekitar 35 – 42 hari.
3. Strata lebah jantan
Strata lebah jantan merupakan strata kedua terbesar dalam koloni lebah madu. Jumlahnya berkisar dari 100 – 250 ekor dalam satu koloni. Tugas utamanya adalah mengawini ratu lebah. Dalam setiap perkawinan hanya seekor lebah jantan yang terbaik, akan terpilih dan berhak mengawini ratu lebah. Perkawinan berlangsung di alam terbuka. Sekali melakukan perkawinan dengan ratu lebah, maka lebah jantan akan mati. Umur lebah jantan sekitar 75 – 90 hari.
B. Pakan Lebah Madu
Sumber pakan lebah madu adalah tanaman yang meliputi; tanaman buah-buahan, tanaman sayur-sayuran, tanaman hias, tanaman pangan, tanaman perkebunan dan tanaman kehutanan. Bunga-bunga dari tanaman-tanaman tersebut mengandung nektar dan tepung sari bunga (pollen).
1. Nektar
Nektar adalah suatu senyawa kompleks yang dihasilkan oleh kelenjar “ Necterifier” tanaman dalam bentuk larutan dengan konsentrasi yang bervariasi. Komponen utama dari nektar adalah sukrosa, fruktosa, dan glukosa. Disamping itu, dalam nektar terdapat zat-zat gula lainnya seperti maltosa, melibiosa, ratinosa, serta turunan karbohidrat lain.
Zat-zat lain yang juga terdapat namun jumlahnya sangat sedikit yaitu; asam-asam organik, resin, protein, garam dan mineral. Konsentrasi gula nektar bervariasi mulai dari 5 % sampai 70 % atau lebih tergantung dari keadaan iklimnya, jenis tanaman serta faktor lainnya. Nektar juga mengandung air dari 40 – 80 %.
2. Pollen (Tepung Sari)
Pollen atau tepung sari diperoleh dari bunga yang dihasilkan oleh antenna sebagai sel kelamin jantan tumbuhan. Pollen dimakan oleh lebah madu terutama sebagai sumber protein, lemak, karbohidrat dan serta sedikit mineral. Satu koloni lebah madu membutuhkan sekitar 50 kg pollen per tahun. Sekitar separuh dari pollen tersebut digunakan untuk makanan larva.
3. Jenis –Jenis Tanaman sebagai Sumber Pakan Lebah Madu
Hampir semua tanaman yang berbunga merupakan sumber pakan lebah madu. Sumber pakan lebah madu adalah nektar, serbuk sari sari pada bunga dan air. Beberapa jenis tanaman di Indonesia sebagai sumber pakan lebah madu disajikan pada Tabel 1 berikut ini.
Tabel 1. Daftar Tanaman Sumber Pakan Lebah
| No | Nama Jenis Tanaman | Masa Bunga | Kekter | Pollen |
| 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. 58. 59. 60. 61. 62. 63. 64. 65. 66. 67. 68. 69. 70. 71. 72. 73. 74. 75. 76. 77. 78. 79. 80. 81. 82. 83. 84. 85. 86. 87. 88. 89. 90. | Aren Lamtoro Puspa Api-api Padi Kelapa Sawit Widara (bidara) Tembakau Jambu Mete Delima Lobi-Lobi Alpukat Nam-Nam Jambu Bol Salak Jagung Jengkol Turi Kacang Panjang Kentang Ketumbar Wortel Krokot Rumput Blambangan Rumput Kembangan Rumput Jampang Pait Rumput Kerbau Incuran Rumput King Putri Malu Lemuran Wedusan Ketapang Akasia Sengon Sonokeling Sonobrit Asam Jawa Mahoni Kaliandra Pelawan Cendana Karet Kapas Mangga Mancang Langsat Belimbing Rambutan Jambu Air Kacang Gude Petai Cabai Nanas Domba Nanas Sebrang Ubi Jalar Labu Air Oyong Paria Labu Siem Bawang Merah Kumis Kucing Eucalyptus Stoenklaver Randu Tebu Vanili Kelapa Wijen Kopi Kedondong Durian Pepaya Waluh Semangka Kesemek Pisang Belimbing Apel Jeruk Manis Jeruk Besar Lengkeng Leci Anggur Kubis Ketimun Kacang Tanah Kedelai Bunga Matahari Flamboyan | Jan – Des Jan – Des Jun – Jul TMT TMT Jan – Des Jan – Des TMT Mar – Jul Jan – Des Feb dan Jul Hujan Jun dan Sep Apr dan Jun Jan – Des TMT Mei – Jun Jun – Agst TMT TMT TMT TMT Jan – Des Jan – Des Jan – Des Jan – Des Jan – Des Jan – Des Jan – Des Jan – Des Apr – Okt Setelah 2 Bln Apr – Mei Jan – Des Jun dan Sept Sept dan Nov Agst dan Okt Apr – Agst TMT TMT Kemarau Feb – Mar Sep – Okt TMT Jun dan Agst Jun dan Agst Jun – Jul Kemarau Okt – Nov Mei dan Okt TMT TMT 3 – 4 kali Mar – Apr Mei – Jun Okt – Nov TMT Kemarau TMT TMT TMT Jan – Nov 3 Thn Bunga TMT Mei – Agst TMT TMT Mar – Des TMT Mei dan Agst Jun dan Agst Jun dan Sept Jan – Des TMT TMT Agst - Sept TMT Jan – Des Mar – Apr Agst & Nov–Des Sept dan Nov Jun dan Agst Agst – Sept Jul – Agst TMT TMT TMT TMT Kemarau Feb dan Agst | - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * | * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
- - - - - * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * |
Tabel 2. Komposisi Nutrisi Madu
| No | Komposisi | Jumlah |
| 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. | Air Fruktosa Glukosa Maltosa Karbohidrat Sukrosa Ensim, Mineral, dan Vitamin Energi (Kalori/100 gram) | 17,0 % 38,5 % 31,0 % 7,2 % 4,2 % 1,5 % 0,5 % 294,0 % |
Laporan penelitian di rumah sakit Uni Soviet telah membuktikan bahwa madu dapat menyembuhkan luka-luka pada usus dua belas jari, memperlancar peredaran darah dan dapat menormalkan komposisi darah.
Madu yang dioleskan pada luka bakar atau infeksi, menurut hasil penelitian dapat mengeringkan luka tersebut dalam waktu 10 hari. Diketahui pula bahwa madu dapat mengeluarkan glutathion dari luka sehingga mempercepat sembuhnya luka atau infeksi.
B. Royal Jelly
Royal jelly adalah salah satu jenis makanan yang baik dengan kandungan nutrisi yang sangat kompleks, bahkan lebih kompleks dibandingkan dengan makanan hewani lainnya. Seringkali royal jelly menjadi topik perbincangan hangat dikalangan kaum pria, terutama tentang manfaat dan khasiatnya dalam memelihara, menjaga kebugaran, serta meningkatkan vitalitas tubuh. Komposisi nutrisi dalam royal jelly tertera pada Tabel 2.
Tabel 2. Komposisi Nutrisi Dalam Royal Jelly
| No | Komposisi | Jumlah |
| 1. 2. 3.
4. 5.
6. | Kadar Air Protein Kasar Gula Total : a. Fruktosa b. Glukosa c. Sukrosa d. Lain-lain Asam Lemak Total Abu : a. Mineral K b. Mineral Mg c. Mineral Na d. Mineral Ca e. Mineral Zn f. Mineral Fe g. Mineral Cu h. Mineral Mu Bahan yang belum teridentifikasi | 67,0 % 12,5 % 11,0 % 6,2 % 4,2 % 0,3 % 0,5 % 5,0 % 1,0 % 5,500 mg/g 700 mg/g 600 mg/g 300 mg/g 80 mg/g 30 mg/g 25 mg/g 7 mg/g 3,5 % |
Dunia karbohidrat dan farmasi modern pun telah merekomendasikan royal jelli untuk pengobatan yang pertama kali oleh Prof. R. Chauvin dari University of Sarbone Perancis pada tahun 1922. Sejak saat itu royal jelly menjadi terkenal. Penggunaan royal jelly untuk pengobatan beberapa penyakit antara lain; asma, alergi, bronchitis, kejang-kejang dan impotensi. Selain itu, pemakaian royal jelly sebagai masker secara rutin menjelang tidur sangat membantu merawat kulit wajah dari gangguan jerawat.
C. Serbuk Sari (Bee Pollen)
Bee Pollen seringkali disebut sebagai intisari kehidupan karena kandungan nutrisinya sangat bermanfaat untuk kesehatan tubuh, terutama untuk membangun dan memperbaiki sel-sel tubuh.
Bee pollen mengandung; 10 jenis asam amino, protein esensial, asam lemak esensial, 10 jenis mineral, vitamin A, B, C, D, dan E, hormon pertumbuhan, hormon reproduksi dan berbagai jenis alkaloid yang mempunyai khasiat dalam melakukan stabilitasi metabolisme sel dan pertumbuhan sel normal (regenerasi – rehabilitasi) pada umumnya.
Seorang ilmuan Rusia mengandakan penelitian terhadap 200 orang yang berumur panjang di sekitar Kaokasehi Rusia. Dari penelitian tersebut disimpulkan bahwa umur panjang berhubungan dengan bee pollen yang terdapat didalam madu yang selalu dokonsumsi. Selain itu bee pollen juga mempunyai khasiat antara lain; meningkatkan daya tahan tubuh, memperlambat proses penuaan, menurunkan kolesterol, memperlancar fungsi pencernaan dan mengobati asma.
D. Lem (Propolis)
Propolis adalah bahan perekat bersifat resin yang dikumpulkan lebah pekerja dari kuncup, kulit atau bagian lain dari tumbuhan. Dalam sarang, propolis digunakan oleh lebah pekerja untuk menutup celah-celah, mendempul retakan-retakan, memperkecil lubang dan menutup lubang.
Susunan kimia propolis sangat kompleks antara lain mengandung zat aromatik, zat wangi dan mineral. Propolis sudah digunakan dalam berbagai obat jadi dari pabrik farmasi antara lain untuk luka dan tampal gigi. Hal ini sangat memingkinkan karena didalam propolis terdapat sifat antibiotik.
E. Lilin Lebah (Malam, Beeswax)
Dalam proses pembentukannya malam disekresikan oleh kelenjar lilin (wasx grands) yang terdapat pada bagian bawah dari perut lebah pekerja.
Penggunakaan malam tidak hanya terbatas pada bidang industri lilin saja, tetapi telah meluas pada industri-industri lainnya seperti industri kosmetika dan industri farmasi. Selain itu malam lebah yang sudah diproses juga dibutuhkan sebagai bahan untuk batik tradisional – modern.
F. Racun Lebah (Bee Venom)
Racun lebah (apitoxin) dihasilkan dari lebah pekerja. Apitoxin disekresikan oleh kelenjar racun dalam bentuk cairan bening dengan bau tajam, rasanya pahit dan pedas, aromanya spsifik serta cepat kering.
Apitoxin mengandung senyawa-senyawa kimia antara lain; triptofan, kolin, gliserin, asam fosfat, asam falmitat, asam lemak, asam vitelin, apromin, peptida, ensim, hystamin, dan mellitin.
Perkembangan penelitian modern membuktikan bahwa racun lebah dapat digunakan untuk pengobatan. Ada beberapa jenis penyakit yang dapat disembuhkan melalui sengatan lebah antara lain; penyakit neuritis, penyakit reumatik otot, penyakit asthma bronchial, penyakit pembuluh darah kapiler dan penyakit impoten.
IV. BUDIDAYA LEBAH MADU SISTEM “ GELODOG” MODERN
A. Peti Lebah Madu (STUP)
Peti lebah madu (sistem gelondong modern) sangat diperlukan dal usaha pemeliharaan lebah madu. Pemeliharaan lebah madu dalam peti akan mempermudah pengelolaan dan pemanenannya, tanpa merusak koloni lebah madu.
Stup dapat dibuat tunggal atau bertingkat yang ditumpuk satu sama lain. Bila stup dibuat bertingkat, maka peti paling bawah berfungsi sebagai tempat ratu dan pertumbuhan serta perkembangbiakan koloninya. Sedangkan peti yang diatasnya berfungsi sebagai tempat memproduksi madu.
Stup perlu diberi penyangganya untuk menghindari serangan rayap, ular, atau binatang lain. Tinggi kaki penyangga stup dari tanah berkisar 50 cm – 100 cm.
Ukuran stup untuk lebah madu umumnya sebagai berikut ; panjang x lebar x tinggi untuk tutupannya adalah 51 cm x 41 cm x 5 cm. Sedangkan untuk kotaknya adalah 50 cm x 40 cm x 28 cm. Tebal papan yag digunakan adalah 1.5 cm.
Pada bagian dalam stup terdapat 6 – 10 sisiran atau bingkai dengan ukuran panjang bagian atasn dengan tonjolan yaitu 49 cm, panjang bagian bawah 40 cm, tingginya 21cm, tebal kayu penggantung 2.5 cm, tebal kayu penguat 1.5 cm, dan lebarnya 3 cm untuk tempat pembuatan sarang lebah madu yang berbentuk heksagonal. Jarak antara sisiran yang satu dengan yang lain sekitar 2 cm agar lebah madu tersebut dapat bergerak secara leluasa.
Ruang antara peti produksi madu dan peti tempat ratu lebah harus diberi pembatas berupa sekat dari kawat kasa agar ratu lebah tidak masuk dan mengkonsumsi serta meletakan telurnya di dalam tumpukan madu.
Pintu keluar-masuknya lebah madu harus dibuat dengan tinggi yang sama dan sejajar dengan letak sisiran.
B. Penempatan Stup.
Penempatan stup yang ideal yaitu harus dekat dengan jenis-jenis tanaman yang banyak mengandung nektar dan serbuk dari sumber pakan lebah madu. Syarat yang lain untuk menempatkan stupnya adalah harus jauh dari tempat-tempat berasap dan rumah-rumah tempat tinggal.
C. Memindahkan Lebah Madu ke Dalam Stup.
Pemula yang ingin belajar budidaya lebah madu, sebaiknya menggunakan spesies lebah madu Apis cerana yang banyak terdapat dimana-mana, baik dirongga-rongga batang pohon atau di atap rumah tua yang tidak dihuni. Spesies lebah tersebut dapat dipindahkan ke dalam stup untuk dibudidayakan sebagaimana biasanya. Cara pemindahannya sebagai berikut :
Pakailah masker untuk melindungi wajah, sarung tangan, baju dan celana yang dapat menahan sengatan lebah.
Hembuskan asam rokok ke koloni lebah untuk menyingkirkan lebah pekerja yang melindungi ratu lebah.
Cari ratu lebah, ambil dan masukan dengan hati-hati ke dalam kotak stup tempat ratu.
Pilihlah tiga atau lebih sisiran sarang yang masih baik (ada telur, larva, pupa, tepung sari bunga, dan sedikit madu). Sisiran tersebut disayat dan lekatkan pada bingkai sisiran dan ikat dengan tali arafia, selanjutnya masukan sisiran tersebut ke dalam stup yang telah terisi ratu lebah.
Masukan semua koloni lebah ke dalam peti lebah (stup), tutup pintunya dan taruhlah di tempat yang sudah dipersiapkan.
Apabila dalam beberapa jam kemudian, koloni lebah dapat tenang, maka pintu pada kotak ratu lebah dapat dibuka.
Untuk beberapa hari lamaya, peti lebah (stup) jangan dipindah-pindahkan. Biarkanlah sarang lebah madu melekat pada bingkai sisiran sarang dan tali arafia terlepas sendiri digigit oleh lebah pekerja.
Pemindahan lebah madu ini sebaiknya dilakukan pada malam hari.
D. Melepas Lebah Madu.
Apabila koloni lebah sudah betah tinggal di dalam stup dan sudah mencintai ratunya, maka lebah madu tersebut dapat dilepas dengan cara membuka pintu keluar-masuknya. Pelepasan lebah madu harus dilakukan pada pagi hari dimana saat bunga tanaman mekar.
E. Pemanenan
Pemanenan dan penanganan madu hasil pemeliharaan lebah madu, merupakan tugas paling pokok yang harus dikuasai peternak lebah madu. Pemanenan dan penanganan yang baik dapat menghasilkan madu yang memiliki kualitas baik.
Pengambilan madu sebaiknya dilakukan setelah semua sisiran hampir terpenuhi dengan madu dan harus pada sore hari, karena pada saat itu lebah madu sudah berkumpul semua dalam peti lebah.
Pengambilan madu harus dilakukan secara teratur yaitu bila sisiran yang berisi madu sudah ditutupi dengan lilin lebah, paling sedikit sepertiga dari sel-sel sisirannya.
Sisiran-sisiran madu yang sudah diambil madunya harus dimasukan kembali ke dalam peti lebah.
DAFTAR PUSTAKA
Aagard, K. L.1974. The Natural Product Propolis. The Way to Health, Mentor, Denmark.
Amalia P, 1985. Beternak Lebah Madu, Bandung.
Ballalykin, V.P, 1964. Propolis : Its antibacterial and Therapeutic Properties, Kasau Publishing Co, USSR.
Brown R, 1994. Haw to Live The Millenium. The Bee Pollen Bible Hohm Eress. New York.
Callais A, 1974. Pollen Phormacentical Product. L, Abeille de Erance et al, Apiculture, Paris, Perancis.
Chapman, R.F, 1971. The Insects Structure and Function. American Elsevier Publishing Company. New York.
Huttabarat P. 1992. Konsep Metode Pemuliaan Lebah Madu, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Mudjiono D, 1981. Melihat Pemeliharaan Lebah Madu di Gunung Arca Sukabumi. Departemen Pertanian Jakarta.
Murtidjo B, 1991. Memelihara Lebah Madu, Kanasius. Yogyakarta.
10. Saenz A. 1984. Biology, Biochemistry and The Therapeutic Effects of Royal Jelly in Human Pathology, Pasteur Institute Paris, Perancis.
11. Sihombing, D.T.H, 1994. Ilmu Ternak Lebah Madu, Gadjah Mada University Press.
12. Solwedo Handiwiyoto, 1980. Pedoman Pemeliharaan Tawon Madu. Pradnya Paramita Jakarta.
13. Warisno, 1996. Budidaya Lebah Madu, Kanisius. Yogyakarta.
14. Winarno, F.G, 1981. Madu, Teknologi Hasil dan Analisis, Ghalia Indonesia.
BIODATA Ir. JACOBUS LAMERKABEL, M.Si
Lahir di desa Adaut Maluku Tenggara Barat pada tanggal, 3 Maret 1963.
Perjalanan kariernya dimulai sejak tahun 1993 sebagai dosen tetap pada Fakultas Pertanian Universitas Pattimura, Ambon.
Mata kuliah yang diajarkan yaitu; Entomologi (ilmu serangga), koleksi serangga, nematologi, patologi benih, budidaya serangga berguna dan budidaya jamur.
Tahun 1997, mendapat kesempatan untuk mengikuti pendidikan Pasca Sarjana (S2) di Universitas Hasanudin, Makasar dan pada tahun 2001 berhasil memperoleh gelar Magister Sains (M,Si) pada bidang ilmu sistem-sistem pertanian.
Ketertarikan untuk mempelajari serangga berguna lebah madu dimulai tahun 1999, saat mengikuti; mata kuliah seranggaberguna, pelatihan cara-cara beternak lebah madu dan seminar-seminar.
Selain sebagai dosen, pemakalah juga pernah menjadi anggota peneliti periode tahun 1999 – 2004 di sub bagian madu Universitas Hasanudin, Makasar. Saat ini ada beberapa artikel tentang lebah madu direncanakan akan dimuat diberbagai media massa dan seminar-seminar. Salah satu diantaranya yaitu; Lebah Madu, hasil hutan ikutan dan ternak harapan.
Last Updated ( Sunday, 07 June 2009 16:15 )



Comments (0)