Wabah Flu Babi dan Ekologi Manusia
Sudah lebih dari sebulan kasus flu babi (Meksiko–H1N1) pertama kali ditemukan pada manusia–tepatnya pada awal April lalu–dan sejak itu pula wacana tentang kandidat virus penyebab pandemi influenza global ini merebak. Sudah lebih dari sebulan ini pula pelbagai pemberitaan di media massa mengulas topik flu Meksiko ini sebagai sebuah isu kesehatan masyarakat yang dinilai penting untuk publik.
Sayangnya, publik hanya mendapat satu perspektif dalam diskusi publik di media massa mengenai flu babi ini, yakni perspektif biomedis. Pemerintah–dalam hal ini Departemen Kesehatan–praktisi kesehatan, dan tentu saja redaksi media massa sendiri, terus sibuk membahas isu-isu seperti ketersediaan Tamiflu atau terdeteksinya tersangka kasus flu babi baru di Indonesia. Masyarakat kita hanya mendapat informasi seputar apa dan bagaimana virus flu babi, apa gejalanya, dan bagaimana cara menularnya.
Padahal, ada dimensi dan perspektif lain yang tak kalah pentingnya untuk diketahui publik. Pertanyaan seperti “mengapa pandemi ini bisa terjadi dan apakah manusia turut andil mendorong pandemi ini” perlu dimunculkan dan kemudian dijawab dengan seksama. Perspektif ekologi manusia ini adalah sebuah alternatif yang relevan untuk dikembangkan untuk mempertajam upaya penanggulangan wabah flu babi terutama di negara-negara berkembang.
Secara global, pola penyakit bergeser dari penyakit infeksi menuju penyakit tidak menular atau degeneratif (penyakit jantung, stroke, kanker) seiring peningkatan pembangunan sosial ekonomi dan modernisasi infrastruktur kesehatan suatu negara. Premis ini dikenal sebagai “kompleks modernisasi” yang merupakan bagian dari teori transisi epidemiologi. Teori transisi epidemiologi yang developmental centris ini–meskipun menuai banyak kritik–merupakan arus utama dalam wacana kesehatan masyarakat.
Akan tetapi, teori ini gagal menjelaskan paradoks tentang beberapa penyakit infeksi yang justru muncul dan menyebar seiring berjalannya pembangunan dan modernisasi di berbagai negara berkembang. Tidak terkecuali merebaknya wabah flu babi yang berawal dari Meksiko, Amerika Selatan. Di sinilah pendekatan ekologi manusia yang berfokus pada interaksi antara agen penyebab penyakit dan inang dalam sebuah ekosistem mampu mengisi lubang penjelasan tersebut. Konsekuensi dari fokus ini adalah premis bahwa pembangunan tanpa wawasan ekologi justru melahirkan “penyakit akibat pembangunan” atau lazim dikenal sebagai developo-genic disease.
Dalam konteks Asia, kita dapat belajar dari pengalaman wabah flu burung (H5N1). Wabah ini berawal dari selatan Cina dan menyebar sesuai dengan jalur migrasi burung liar. Berkembangnya permukiman penduduk yang padat di selatan Cina memotong jalur migrasi unggas liar. Pada saat bersamaan, pola beternak unggas secara tradisional masih umum dilakukan di wilayah-wilayah permukiman penduduk itu.
Dua fenomena ini menyebabkan burung-burung liar yang sedang bermigrasi terpaksa harus mengambil air minum di lokasi yang juga digunakan kumpulan unggas ternak. Burung-burung liar pembawa virus flu dipaksa bercampur dengan unggas ternak yang tidak memiliki ketahanan terhadap virus flu tersebut. Rantai penyebaran berikutnya mudah ditebak: unggas ternak yang dipelihara di lokasi yang berdekatan dengan manusia–yang mengabaikan higiene–menyebabkan penularan virus flu dari unggas ke manusia menjadi sedemikian mudah. Contoh dari pola penyebaran flu burung ini menunjukkan bagaimana sebuah wabah berawal dari disharmoni pembangunan dan ekologi.
Wabah flu babi pada manusia diduga berawal dari negara bagian Veracruz, Meksiko. Masyarakat setempat menuding sebuah peternakan babi raksasa dengan modal dari Amerika Serikat sebagai biang keladi. Jika tuduhan ini terbukti, benarlah pula anggapan bahwa ganasnya arus pembangunan dan globalisasi–yang terlalu berpusat pada manusia dan pertumbuhan ekonomi–telah memberikan tekanan besar terhadap daya dukung alam di negara berkembang.
Peningkatan pendapatan per kapita suatu negara umumnya berbanding lurus dengan tingkat konsumsi daging, yang pada akhirnya mendorong peningkatan jumlah peternakan raksasa untuk mensuplai kebutuhan tersebut. Pada saat yang sama, terbukanya pintu globalisasi ekonomi membuat arus modal menuju negara berkembang sebagai lokasi basis produksi murah mengalir cepat. Peternakan-peternakan raksasa pun dibangun di banyak negara berkembang, dengan modal dari negara maju. Produksi daging dari peternakan itu dipasarkan kembali ke negara maju, dan menjanjikan devisa berlimpah untuk negara asal peternakan. Sayangnya, banyak pemerintah negara berkembang tidak sadar bahwa keuntungan ekonomi ini harus dibayar mahal kelak.
Pemerintah negara-negara berkembang umumnya tidak mengawasi dengan ketat penerapan prosedur higiene dan sanitasi di peternakan-peternakan raksasa bermodal asing ini. Mereka mengabaikan analisis dampak lingkungan, tidak mengawasi rendahnya perlindungan kesehatan bagi pekerja di sana, menutup mata atas proses peternakan yang kurang bertanggung jawab (penggunaan suplemen hormon dan antibiotik berlebihan untuk meningkatkan produksi, yang pada akhirnya mempengaruhi imunitas/tingkat kekebalan hewan ternak atas serangan penyakit), dan tidak mengatur tingkat kedekatan serta kepadatan hunian penduduk dengan peternakan.
Ini semua menyebabkan peternakan di negara berkembang sukses bertransformasi menjadi sebuah lahan persemaian yang ideal bagi proses mutasi virus. Peternakan raksasa yang tidak higienis ini telah berubah fungsi menjadi sebuah laboratorium raksasa bagi virus untuk bereksperimentasi. Inilah akar masalah merebaknya wabah flu babi (Meksiko) pada manusia.
Pada dasarnya upaya penanggulangan wabah dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok: 1) Upaya pengendalian sumber penyakit, 2) Mengurangi transmisi atau proses penularan, 3) Memodifikasi daya tahan tubuh inang. Dalam wacana yang berpusat pada pendekatan biomedis–seperti yang berkembang di media selama ini– solusi atas wabah flu babi adalah: penerapan sistem pemindaian suhu tubuh di sejumlah bandara dan pelabuhan, serta pengobatan penderita dengan Tamiflu. Tujuannya agar manusia sumber penyakit ini dapat dikendalikan, sehingga tidak terjadi penularan yang lebih luas di masyarakat. Selain itu, vaksin untuk modifikasi kekebalan tubuh inang juga mulai dikembangkan.
Sederet solusi itu tentunya baik untuk masyarakat. Namun, semuanya bukanlah solusi permanen untuk masalah wabah flu bersumber binatang yang melanda dunia saat ini. Ambil contoh saja, soal penyediaan oseltamivir, atau yang lazim kita kenal sebagai Tamiflu. Seiring dengan penyebaran virus serta kemungkinan mutasi yang terus-menerus, efektivitas Tamiflu tentunya lambat-laun akan tergerus juga. Selain itu, pengembangan vaksin influenza sendiri bukanlah proses yang mudah dilakukan. Masih ingat perseteruan antara Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari dan WHO soal virus flu burung? Salah satu pangkal masalahnya adalah keengganan negara maju membagi teknologi pembuatan vaksin mereka.
Apa pilihan yang kita miliki? Tentunya kembali ke akar masalah merebaknya wabah: pengendalian sumber penyakit. Dalam kasus penyakit infeksi bersumber binatang seperti kasus flu babi ini, upaya sistematis untuk melakukan pengendalian dan pengawasan terhadap peternakan dan rumah potong hewan, harus terus-menerus dilakukan. Peningkatan bio-security, seperti pengaturan jarak aman antara peternakan dan permukiman penduduk, pengolahan limbah, dan lain-lain, harus diawasi ketat.
Dalam konteks Indonesia, pendekatan ini bisa efektif untuk mencegah timbulnya strain baru virus flu babi dan flu unggas. Mumpung virus flu babi belum mewabah di negara kita, baik pada babi maupun manusia. Untuk itu, tentu saja Departemen Pertanian harus menyediakan alokasi anggaran khusus untuk program pemantauan (surveillance), penanggulangan dan pencegahan wabah bersumber binatang, secara berkesinambungan.
Terakhir, untuk kita semua, masyarakat luas, ada satu hal yang dapat kita lakukan untuk mencegah wabah seperti ini terjadi lagi: hiduplah secara bersih dan sehat. Kalau Anda mau punya kontribusi lebih, kurangilah konsumsi daging. Bukan karena takut tertular flu babi lewat makanan, melainkan untuk mengurangi tekanan konsumsi atas daya dukung alam kita. *



Comments (0)