Peningkatan Produksi Susu dengan Kebijakan terhadap Peternakan Sapi Perah
Pemerintah perlu benar-benar menyiapkan kebijakan tentang peternakan sapi perah pada tahun 2012 jika memang serius bermaksud melakukan peningkatan produksi susu.
Selama 2011, secara umum dapat dikatakan tidak ada hal-hal yang menonjol untuk mengatasi masalah klasik yang ada. Kalau tahun depan tidak ada kebijakan yang signifikan, kita akan semakin termarjinalkan. Demikian menurut Ketua Dewan Persusuan Nasional, Teguh Boediyana kepada Pikiran Rakyat.
Teguh menilai, pemerintah belum bisa memberikan solusi nyata atas persoalan klasik di dunia peternakan sapi perah pada 2011. Dari sisi produksi, peternakan sapi perah di Indonesia masih berkutat dengan persoalan yang sama selama beberapa tahun terakhir, misalnya efisiensi.
Dengan pemilikan sapi rata-rata peternak sekitar dua hinga empat ekor per peternak, efisiensi sulit dicapai. Terlebih karena kemampuan teknis peternak yang secara umum masih rendah. Kondisi ini diperparah dengan persoalan ketersediaan, kecukupan, stabilitas dan kualitas pakan yang masih belum memadai. Kondisi ini berdampak langsung terhadap produktivitas.
Dari sisi tata niaga, peternak sapi perah pun masih harus berjuang sendiri di hadapan industri pengolahan susu (IPS) dengan posisi tawar rendah. Biaya produksi yang dikeluarkan peternak tidak berimbang dengan harga jual susu ke IPS ikut memperburuk keadaan.
Kebijakan yang selama ini diambil pemerintah berkaitan dengan persusuan cenderung tidak terkoordinasi dengan baik. Ego sektoral membuat anggaran yang ada tidak efektif. Bahkan orientasi yang berbeda antar kementerian justru membuat kebijakan yang kontraproduktif dengan kementerian lain.
Maka tidak mengherankan jika perkembangan produksi susu nasional cenderung lambat. Padahal kebutuhan susu nasional terus meningkat. Dia mencontohkan, pada tahun 1996 serapan produksi susu segar dalam negeri sekitar 433.442 ton, sedangkan susu impor 316.233 ton. Angka produksi susu dalam negeri bergerak sangat lambat, jauh dibandingkan dengan produksi susu impor. Pada 2009, produksi susu dalam negeri 679.269 ton, sedangkan susu impor melonjak menjadi 2.059.719 ton.
Sementara itu, media online lain Bisnis Indonesia memberitakan bahwa Dewan Persusuan Nasional memprediksikan pasokan susu lokal untuk memenuhi kebutuhan akan terus mengecil, sedangkan pemenuhan dari impor akan semakin meningkat. Atau dengan kata lain. produksi susu segar lokal pada tahun depan masih tetap stagnan. Pasar susu segar tahun depan sekitar 3,5 juta ton masih akan dipasok dari impor sebesar 75%.
Ketua Dewan Persusuan Nasional Teguh Boediyana mengatakan produksi susu segar tahun ini hanya 25% dari total pasar susu di Tanah Air 3,2 juta ton, sedangkan sisanya 75% masih diimpor. Padahal, peluang pasar susu di dalam negeri sangat besar, karena konsumsi susu masih rendah dan akan terus meingkat. Pasar susu di Tanah Air pada tahun ini sebesar 3,2 juta ton yang dipenuhi dari impor sebesar 75% atau 2,4 juta ton, sedangkan produksi dalam negeri 800.000 ton atau 25%.
Diperkirakan pasar susu pada tahun depan menjadi 3,5 juta ton naik 6,3% atau 200.000 ton dibandingkan dengan tahun ini 3,2 juta ton.
Last Updated ( Saturday, 31 December 2011 18:39 )



Comments (0)