Zonasi Wilayah Agar Peternak Bisa Mandiri
NGAMPRAH, (PR).-
Pemerintah Kab. Bandung Barat akan membuat zonasi ternak dalam rencana pembangunan jangka menengah (RPJM) untuk mengoptimalkan potensi masyarakat. Rencana ini akan mendukung terwujudnya visi daerah yang mengedepankan agribisnis dan ditargetkan produksinya bisa meningkat 10 persen-15 persen dalam setahun. Hanya, perlu dukungan dari sisi kebijakan untuk bidang peternakan agar lebih mandiri dan optimal.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Bandung Barat, drh. Adiyoto, Selasa (8/12), mengungkapkan, pada 2013, peternakan telah terbagi dalam tiga zona wilayah. Untuk kawasan utara yaitu Kec. Lembang dan sekitarnya dikhususkan bagi pengembangan ruminansia seperti sapi perah. Sementara kawasan tengah seperti Kec. Ngamprah, Padalarang, Cikalongwetan, serta Cipatat dialokasikan sebagai zona unggas dan ruminansia kecil. Sementara kawasan selatan diprioritaskan menjadi zona ruminansia kecil dan ruminansia besar potong.
Domba
Sebelumnya, Gubernur Jabar menginginkan agar Jabar menjadi provinsi domba karena potensinya yang besar. Keinginan ini sesuai dengan kondisi peternakan di Kab. Bandung Barat sehingga masuk dalam visi dan misinya.
Saat ini, tingkat kepemilikan domba di Kab. Bandung Barat baru mencapai 9-10 ekor untuk setiap peternak. Ditargetkan, pada 2013, setiap peternak minimal telah memiliki tiga puluh ekor domba untuk dibudidayakan. Berdasarkan catatan, pada tahun ini produksinya telah mencapai 29.000 ekor dan diharapkan bisa meningkat 10 persen-15 persen setiap tahunnya.
Meski begitu, menurut Adiyoto, potensi yang paling baik dan potensial di Kab. Bandung Barat adalah sapi perah. Hewan ruminansia besar ini dinilai memiliki dua fungsi, yaitu diperah susunya dan dagingnya juga dapat dimanfaatkan. Secara konkret, ia telah menyusun pola ternak di Kec. Lembang sebagai sentra sapi perah. Salah satunya, dengan tidak mengembangkan hijauan atau pakan sapi. (A-176)***
Penulis:



Comments (0)