Kekuatan Konsumen Melawan Dominasi Pasar
Perdagangan komoditas peternakan saat ini cenderung dikuasai kartel-kartel perdagangan yang mendominasi pasar nasional. Kartel-kartel tersebut membentuk mekanisme perdagangan dengan menguasai komponen-komponen penting dalam dunia perdagangan komoditas peternakan. Asosiasi-asosiasi perdagangan yang biasa dibentuk tak lain adalah sebagai upaya untuk senantiasa mendominasi pasar. Daging ayam, daging sapi, telur hingga susu menjadi komoditas dengan harga yang senantiasa "dipermainkan" pasar.
Ada kartel perdagangan yang menamakan dirinya gabungan koperasi, gabungan pengusaha atau gabungan industri. Apa pun namanya, ketika dunia usaha dipenuhi kartel-kartel dengan modal besar, para pengusaha kecil sulit menembus persaingan. Misalnya, harga daging ayam di pasaran yang terus melonjak ditentukan oleh kartel-kartel pengusaha ayam ras yang dikuasainya dari hulu hingga hilir. Penguasaan pasar dimulai dengan oligopoli bibit ayam atau yang biasa dipasarkan dalam bentuk DOC (day old chick/ayam umur sehari) hingga penguasaan pakan, obat-obatan, dan sarana penunjang lainnya.
Di tengah sulitnya usaha ternak kecil menembus pasar, saya berpendapat, persaingan bisa dilakukan jika kita memiliki strategi yang bertumpu pada kepercayaan konsumen pada produk kita. Selama ini, konsumen kurang tahu asal-muasal produk yang mereka beli. Konsumen biasa membeli daging, telur, dan susu di pasar tradisional atau pasar modern tanpa memperhatikan produsen produk tersebut. Berdasarkan pengalaman saya ketika berdagang susu, konsumen ingin tahu asal produk yang mereka beli. Konsumen punya hak untuk tahu. Oleh karena itu, kita beri tahu mereka tentang identitas produk tersebut. Hal ini bisa menambah kepercayaan konsumen akan produk yang kita jual.
Dengan begitu, saya percaya, pengetahuan konsumen akan identitas produk dapat memengaruhi keputusan mereka untuk membeli produk para pengusaha kecil. Dengan catatan, kita harus jujur dengan produk yang kita miliki. Misalnya, harga murah yang kita tawarkan memang tidak dibarengi kualitas dan citra yang baik yang biasanya ditutup-tutupi pedagang. Sebab, harga murah menjadi pertimbangan utama sebagian pembeli dalam memenuhi kebutuhan pangan mereka.
Ketika sebagian besar konsumen memilih produk lokal dalam memenuhi kebutuhan pangan mereka, mekanisme pasar akan memihak kepada pengusaha lokal. Kartel-kartel besar pun akan mengurangi dominasi mereka ketika konsumen tidak berpihak pada mereka. Kenyataannya, konsumenlah yang memengaruhi pasar bukan produsen.
Seyogianya, perdagangan dalam usaha peternakan pun mengandalkan perilaku konsumen untuk membeli produk yang kita miliki. Misalnya, jika susu yang selama ini beredar di pasaran adalah produk pabrik, sebaiknya konsumen membelinya langsung dari peternak atau koperasi yang ada untuk memotong jalur distribusi susu yang terlalu rumit dan berbelit-belit.
Konsumen adalah pihak terakhir dalam jalur distribusi produk peternakan sehingga punya "kekuasaan" yang dapat mengendalikan mekanisme pasar. Jika selama ini mekanisme pasar dikendalikan pedagang, sudah saatnya konsumen memengaruhi fluktualitas harga di pasaran. Ada banyak produsen yang menganjurkan konsumen untuk membeli produk dalam negeri sebagai upaya menjadikan konsumen untuk melawan dominasi produk impor. Produsen tidak bisa memaksa konsumen untuk membeli produknya meskipun dengan kualifikasi yang baik.
Beberapa hari yang lalu, media massa melaporkan kebangkrutan yang dialami produsen otomotif Amerika seperti General Motor dan Ford karena bersikeras mempertahankan kualitas produk dengan harga yang selangit sehingga ketika krisis global menerpa konsumen pun enggan membeli mobil mahal buatan Amerika. Justru Toyotalah yang masih bertahan dengan harga produknya yang terjangkau dan menjadi produsen otomotif terbesar di dunia. Ternyata asumsi konsumen mulai berubah. Banyak konsumen yang membeli mobil dengan motif kebutuhan bukan sekadar prestise atau gengsi.
Asumsi ini juga berlaku pada produk peternakan. Jika produk susu bermerek yang selama ini dibeli konsumen terus mengalami kenaikan harga, jangan aneh ada sebagian konsumen yang beralih ke susu segar tanpa merek karena semata memenuhi kebutuhan gizi. Begitu pun dengan daging dan telur, jika konsumen mengalihkan pembeliannya pada peternak sekitar rumahnya maka fluktuasi harga dikendalikan oleh konsumen.
Asumsi-asumsi inilah yang sering mendorong penulis untuk senantiasa beternak dan memenuhi kebutuhan gizi sendiri. Untuk kebutuhan daging ayam dan telur, kita memelihara ayam. Begitu pun untuk kebutuhan daging sapi dan domba alangkah lebih baik membelinya dari peternak sekitar kita. Kebiasaan ini mulai luntur akibat perubahan asumsi dan gaya hidup yang ingin serbapraktis. Akibatnya, masyarakat semakin kesulitan memenuhi kebutuhan pangannya. ***
Penulis, mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran.



Comments (0)